Home BERITA Harga Biji Kopi Meroket, UMKM Bubuk Kopi di Lahat Pilih Guling Tikar

Harga Biji Kopi Meroket, UMKM Bubuk Kopi di Lahat Pilih Guling Tikar

Lematamg.id, Lahat – Tingginya harga biji kopi di tingkat petani saat ini, yang tembus diangkat Rp 48 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram, buat sejumlah pelaku UMKM bubuk kopi di Lahat, memilih gulung tikar. Hal itu lantaran, selain harga jual biji kopi yang tinggi, kopi saat ini juga sulit didapat.

Wawan, pengusaha bubuk kopi “Kawe Megalit” di Kota Lahat mengaku, usaha kopinya sempat naik tajam, namun sejak harga biji kopi terus naik hingga Rp 50 ribu, ia jadi tak berdaya. Karena, tingginya harga biji kopi berimbas pada tingginya harga bubuk kopi yang akan dijualnya.

“Awalnya sempat bertahan. Tapi saat harga biji sudah mencapai Rp 45 ribu, saya tidak jual lagi,” ujar Agus, Senin (4/3/2024).

Agus membeberkan, imbas kenaikan biji kopi saat ini, harga bubuk kopi bisa mencapai Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu per kilogram. Alhasil, kenaikan harga tersebut sangat berimbas kepada pembeli. Jika tetap dipaksakan, produksi bubuk kopi terancam tak laku, apalagi pelanggannya selama ini kalangan menengah ke bawah.

“Banyak yang mengeluh dengan harga bubuk kopi saat ini. Makanya sekarang berimbas kepada UMKM yang selama ini menjual bubuk kopi, banyak yang roboh,” katanya.

Hal serupa juga diutarakan Andika, penjual bubuk kopi asal Kota Lahat ini, juga memilih stop berjualan dahulu. Ia menunggu harga biji kopi turun, baru kembali berjualan. Apalagi saat ini, mencari biji kopi cukup sulit, lantaran belum masa panen.

“Dengan harga saat ini, banyak pelanggan yang terkejut. Jadi kita stop dahulu, sampai harga kembali turun. Kalau saat ini sangat berimbas bagi pembeli,” ucap Andika.

Terpisah, Riko alias Cuncun, toke kopi di Kota Lahat membenarkan, jika harga jual kopi saat ini cukup tinggi dibanding sebelumnya, atau ketika dimasa panen. Menurutnya, biji kopi dengan kualitas baik, kering, saat ini ia beli dari petani bisa mencapai harga Rp 50 ribu per kilogram. Sementara, biji kopi basah Rp 46 ribu hingga Rp 48 ribu per kilogram.

“Kenaikkan harga kopi saat ini, karena sulit mencari biji kopi dari patani dan bisa dikatakan kosong. Penyebabnya, mulai dari belum masuk masa panen, disisi lain stok biji kopi di petani sangat sedikit. Jadi gimana petani mau jual, kopi tak ada, belum masa panen,” bebernya.

Sementara, Kepala Dinas Perkebunan Pemkab Lahat, Vivi Anggraini SSTP MSi menerangkan, tingginya harga kopi karena stok kopi di tingkat petani kosong. Pihaknya juga terus memantau perkembangan harga dan saat ini mencapai Rp 46 ribu hingga Rp 48 ribu perkilogram.

“Setiap minggu melalui penyuluh, kita selalu lakukan survey harga. Memang saat ini cukup tinggi l, tapi untuk di Lahat memang belum masa panen,” terangnya.

Disi lain Vivi menyebut, untuk meningkatkan produktifitas kopi, berbagai bantuan telah digulirkan ke petani kopi di Kabupaten Lahat. Seperti bantuan bibit kopi unggul, pupuk, handspayer, mesin rumput dan lainya. Selain itu, penyuluhan juga terus dilakukan.

“Ya faktor cuaca juga jadi penentu, jika terlalu panas atau terlalu sering hujan buah kopi cendrung menurun. Kita survey jangankan di tingkat petani di kalangan pengepul juga banyak yang kosong saat ini. Untuk masa panen sendiri kalau di Lahat ini tiap kecamatan tidak berbarengan, namun panen biasanya dimulai dari bulan April hingga Juli,” sampainya. (heru)

Previous article40 Caleg DPRD Lahat Terpilih Harap Bersabar, KPU Belum Lakukan Penetapan
Next articleLahat 10 Tahun Pertahankan Piala Adipura

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here