Lematang.id, Lahat – Program kali bersih yang digarap Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup di musim kemarau akhir tahun 2025 lalu, akhirnya membuahkan hasil.
Diawal tahun 2026, persis di musim penghujan, sejumlah area di Kota Lahat yang selama ini selalu terdampak banjir ketika hujan deras turun, kini tidak lagi terdampak.
“Biasanya ketika hujan deras wilayah di Kelurahan Talang Jawa Utara dan Selatan pasti tergenang banjir smpai masuk ke dalam rumah. Tapi kali ini belum terlihat. Mungkin karena aliran air di selokan (got) sudah lancar,” ucap Okta, warga Kelurahan Talang Jawa Selatan, Kamis (8/1/2026).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Lahat, M A Dodi Nasoha, melalui Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Rosivel T Herwin mengatakan, alhamdulilah kerja keras tim Satgas Kali Bersih kurung waktu dua bulan terakhir membersihkan pencemaran air permukaan, alias pencemaran di aliran SPAL di air apul, dinilai sudah memudahkan hasil.
“Untuk aliran air apul yang melintasi 12 kelurahan/desa, endapan yang selama ini menumpuk sudah kita bersihkan, air sudah mengalir lancar. Dengan begitu, wilayah yang selama ini rawan banjir akibat spal tergenang limbah, sudah tidak terjadi lagi,” kata Herwin, Kamis (8/1/2026).
Herwin menambahkan, setelah ini, pihaknya akan tetap melanjutkan program kali bersih, dengan sasaran aliran ‘Ayek Tue’. Dengan jalur, dari arah hulu, Kelurahan Lahat Tengah, lanjut ke Balayasa, lalu ke RSUD hingga ke Kelurahan Pasar Bawah. Dengan total panjang dari hulu ke hilir sekitar 7 KM.
“Belum diketahui bakal makan waktu berapa lama. Saat ini tim tengah lakukan survey dan pemetaan titik lokasi yang harus didahulukan,” terangnya.
Sementara, Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan, Khairul Hakim menjelaskan, dari hasil pembersihan endapan, mayoritas limbah yang menutup aliran spal berasal dari limbah rumah tangga, plastik, hingga bongkahan kayu. Pihaknya bahkan menemukan adanya limbah kasur warga, yang buat spal jadi tersumbat.
“Kita berharap, masyarakat bisa disiplin dalam menjaga kebersihan, tidak lagi membuang sampah ke spal atau selokan. Sehingga air selokan tidak lagi tersumbat, dan menimbulkan air kembali naik menggenangi pemukiman warga,” jelasnya. (imek)




